Inilah Alasan Mengapa Perusahaan Anda Perlu Asisten Virtual

Beberapa perusahaan sudah mulai mengadopsi teknologi asisten virtual untuk meningkatkan pengalaman pelanggan yang lebih baik

298
mengapa perlu asisten virtual

Teknologi.info – Mari kita lihat kebiasaan Gen Z dan Milenial (dan semua yang muncul setelahnya) terkait keinginan untuk mendapat respon yang cepat ketika mereka memiliki pertanyaan atau keluhan di dunia maya. Kebutuhan akan kecepatan dalam segala aspek bagi mereka adalah hal yang “wajar” sebab, mereka lahir dan besar di era internet yang serba cepat. Mengapa kita membicarakan Gen Z dan Milenial? Karena mereka lah target pasar paling potensial di ranah internet.

Berkat perangkat pintar yang terhubung ke Internet, mereka seolah-olah benar-benar memiliki seluruh akses apapun, ke manapun dan kapanpun di tangan mereka; Pertanyaan dijawab dengan cepat, Pesanan dibuat dalam hitungan detik dan lain-lain. Mereka menggunakan ponsel mereka lebih dari tiga jam sehari, dan semuanya tidak menyukai waktu tunggu yang lama jika mengajukan pertanyaan terkait layanan dasar yang mereka gunakan.

Karena itulah, beberapa perusahaan berusaha memberikan respon cepat dengan menggunakan ChatBots dan Asisten Virtual.

Frasa “asisten virtual” muncul di akhir tahun 90-an, dan menjadi lebih revolusioner melalui penggunaan Internet yang kian hari semakin meluas. Begitu Internet hadir dan bisa digunakan oleh umum, asisten virtual lebih banyak berperan sebagai asisten administrasi dan perwakilan layanan pelanggan.

Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) muncul pada tahun 2010-an dan dengan cepat berhasil mendisrupsi hampir setiap industri yang ada. Dalam bidang asisten virtual, disrupsi itu terwujud dalam bentuk chatbot, yang dengan cepat menjadi populer karena berbagai alasan. Dalam banyak kasus, chatbot ini diintegrasikan ke dalam aplikasi perpesanan paling populer, termasuk yang seperti Whatsapp, WeChat, Slack, Facebook Messenger, dan Telegram. Sebagian besar, percakapan dengan bot ini hampir tidak bisa dibedakan dari percakapan yang dilakukan orang-orang dengan kontak pribadi mereka. Akhirnya, karena berada di aplikasi chatting, pengguna seolah-olah tidak perlu belajar lagi bagaimana mengoperasikannya karena sehari-hari mereka sudah menggunakan aplikasi chat tersebut. Mereka hanya perlu tahu kata-kata singkat untuk meminta jawaban pada asisten virtual.

Chatbots memadukan bantuan virtual tradisinal dengan layanan pelanggan, dan dengan teknologi pembelajaran mesin, mereka dengan cepat memberikan jawaban atas pertanyaan umum (Frequently Asked Questions/FAQ) dalam bentuk percakapan. Seiring perkembangan teknologi, hal itu juga membantu dalam berbagai macam cara lain, seperti orientasi pelanggan baru (seperti yang terlihat dengan aplikasi seperti Lemonade), dan penemuan produk untuk belanja online (seperti yang terlihat dengan produk seperti Syte).

Bantuan virtual baru-baru ini semakin berkembang melalui penggabungan teknologi blockchain, seperti yang terlihat dalam kasus VAIOT yang berbasis di Malta. VAIOT menggabungkan kecerdasan buatan dengan blockchain untuk menciptakan cara baru mengakses layanan secara digital dan secara aman dan alami. Ini berfungsi sebagai asisten pribadi yang menyediakan layanan berbasis AI untuk industri asuransi.

Perusahaan besar baru-baru ini menambahkan asisten virtual cerdas (Intelligent Virtual Assistants/IVAs) ke dalam portofolionya, yang memanfaatkan kekuatan IBM Watson di IBM Cloud. Putaran pertama IVA membantu perusahaan asuransi dan InsurTech membuat channel penjualan dan layanan pelanggan yang cerdas. VAIOT juga menawarkan saluran distribusi layanan cerdas yang memberdayakan bisnis untuk beradaptasi dengan pelanggan modern dengan menyediakan cara baru untuk mengakses layanan.

Perlu juga dicatat bahwa asisten virtual yang dikendalikan suara, seperti Siri dan Alexa semakin populer dan diadopsi secara paralel dengan chatbot. Perbedaannya, bagaimanapun, adalah bahwa asisten pintar ini sebagian besar adalah “pekerja rumah tangga”, sementara VAIOT bertujuan untuk melayani bisnis.

Asisten Virtual harus menjadi bagian dari Transformasi Teknologi

Bukan tanpa alasan bahwa bisnis dari semua bidang telah berupaya memasukkan teknologi asisten virtual dan dengan cepat menjadi standar bisnis karena alasan berikut:

  1. Antarmukanya sederhana dan membuat interaksi / transaksi dengan pelanggan terkait layanan dasar menjadi mudah.
  2. Cara yang terjangkau untuk memberikan pengalaman pelanggan karena menghemat waktu tunggu pelanggan untuk menghubungi dan juga menghemat waktu karyawan yang sibuk sehingga bisa lebih fokus pada pertanyaan yang lebih “berat” serta yang membutuhkan lebih banyak perhatian.
  3. Teknologi ini relatif murah dan sangat cepat diimplementasikan.

Karena para wirausahawan sedang mencari cara baru dan inovatif untuk menjalani transformasi teknologi di seluruh perusahaan di dunia pasca pandemi, sebaiknya pertimbangkan juga untuk memasukkan asisten virtual ke dalam pengalaman pelanggan untuk memastikan perusahaan Anda tetap up to date sesuai teknologi yang ada saat ini. Melakukan hal ini juga akan membuat perusahaan lebih friendly untuk target pasar, dan membangun relevansi di dunia yang semakin digital.

Bagaimana di Indonesia? Sudah banyak perusahaan yang menggunakan asisten virtual mulai dari perusahaan telekomunikasi hingga partai politik menggunakannya. Lalu, bagaimana dengan Anda?