Rilis dari IDA, Baidu, dan Bekraf tentang Studi Konsumsi Media Online Indonesia

824
survei, media online, indonesia, IDA, Baidu, Bekraf
Saat rilis Studi Konsumsi Media Online di Indonesia (Sumber: dailysocial.id)

Teknologi.info – Pada hari Rabu, 16 Maret 2016 bertempat di Menara Palma Kuningan, Jakarta telah dilakukan rilis resmi tentang penelitian yang berjudul “Studi Konsumsi Media Online Indonesia”. Studi ini dicetus oleh Indonesia Digital Association (IDA) didukung oleh Baidu dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Sedangkan pelaksana survei ini adalah Gfk sebagai perusahaan riset terkemuka di Indonesia dan dunia.

Edi Taslim sebagai Ketua IDA menyatakan penelitian ini mengetahui perkembangan teknologi yang mengubah cara masyarakat mengonsumsi informasi yang didapat. Sehingga penyedia informasi dapat memberikan konten yang tepat bagi penggunanya.

“Kami selaku praktisi industri sangat antusias terhadap hasil temuan ini. Kemajuan teknologi telah mengubah cara masyarakat mengonsumsi informasi, yang tentunya kami lihat sebagai opportunity untuk menyuguhkan konten yang tepat di saat yang tepat, dengan cara yang tepat.” Ujar Edi Taslim, Ketua IDA.

Ditambahkan Edi dengan studi ini bisa dijadikan pegangan bagi marketing untuk menggunakan media iklan yang tepat, “Hal ini juga perlu disikapi oleh para praktisi marketing dan merek agar dapat berkomunikasi dengan target pasarnya melalui moda yang relevan.”

Diakhir keterangan Edi merasa senang mendapat dukungan dari Bekraf dan Baidu karena studi terkait dengan konsumsi media terutama media online masih kurang. Edi berharap studi ini dapat membantu pertumbuhan industri digital di Indonesia serta IDA semakin banyak melakukan riset terhadap industri yang berkaitan di masa mendatang.

Bao Jianlei selaku Country Director Baidu Indonesia melalui keterangannya mengatakan, “Baidu sepenuhnya mendukung pengembangan ekosistem digital di Indonesia. Pengadaan riset menjadi penting, karena industri digital perlu didukung data industri untuk bisa berkembang. Kami berharap riset ini bisa menjadi salah satu acuan bagi pemain digital di Indonesia dalam mempelajari kebiasaan netizen di Indonesia.”

“Serta dengan adanya asosiasi digital IDA dan Bekraf sebagai badan yang menaungi industri konten dan digital di Indonesia, saya percaya dengan didukung data riset yang akurat, industri digital Indonesia dapat lebih berkontribusi bagi percepatan pertumbuhan ekonomi negara”, tambah Bao Jianlei.

Badan Ekonomi Kreatif mendukung dan menyambut baik adanya penelitian tentang ini seperti yang dijelaskan oleh Triawan Munaf sebagai ketua, “Badan Ekonomi Kreatif menyambut baik inisiatif para pelaku usaha untuk memajukan industri konten lokal. Konsumsi konten online terus meningkat seiring perkembangan teknologi.”

Dengan adanya kemajuan di bidang konten online dan teknologi, Triawan mengajak semua yang berada di industri kreatif bekerja dan menggunakannya untuk kemajuan ekonomi Indonesia. “Kami mengajak para kreator untuk terus berkreasi dan pintar dalam memanfaatkan teknologi. Hal ini sejalan dengan rencana pemerintah menjadikan Indonesia sebagai kekuatan baru ekonomi digital di Asia.”

Selanjutnya Triawan menambahkan, “Kita ketahui bahwa lanskap media sangat dinamis, berubah cepat, gadget juga terus mengalami perubahan, dari yang biasa saja sampai yang paling cangghih. Kalau jaman dulu TV dan media cetak, kini jenis media berevolusi jadi lebih baik yaitu media online.”

Triawan ingin perbanyak riset seperti penelitian ini untuk bisa melihat pergerakan dunia media yang begitu progresif. Dengan tetap melihat bagaimana perubahan kebiasaan masyarakat di era yang serba digital.

Hasil Riset Studi Studi Konsumsi Media Online Indonesia

Survey ini dilakukan di 5 kota besar di Indonesia yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya dan Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) selama 1 bulan dari Oktober 2015 hingga November 2015. Yang mengikuti survey ini ada 1521 panelis melalui software yang ada di smartphone, dan 775 responden melalui tahap interview tatap muka.

Menurut survei, perangkat yang dijadikan untuk mencari berita paling besar ada dua yaitu smartphone (96%) dan TV (91%). Masyarakat yang tinggal di kota urban sebanyak 81% selalu memantau informasi dan berita secara regular. Dengan kategori konten seperti entertainment (73%), isu sosial (70%), politik dan pemerintahan (49%), olahraga (48%), agama (32%), ilmu pengetahuan dan teknologi (30%), fashion dan kecantikan (29%), edukasi dan parenting (26%), ekonomi dan bisnis (25%), travelling (20%) serta hobi (19%).

Dari kategori konten tersebut didapatkan wanita menyukai seputar entertainment, beauty dan fashion. Sedangkan pria menyukai konten isu sosial, politik dan olahraga. Sedangkan untuk usia muda (13 – 32 tahun) lebih menyukai konten entertainment, untuk usia lebih tua (33 – 52 tahun) preferensi topik konten lebih serius seperti politik, isu sosial, agama dan parenting.

Periode waktu mengakses berita yang tertinggi dalam survey ini terjadi dari 12 – 15 siang untuk hari Senin – Kamis. Untuk hari Sabtu lebih lama dari hari biasa yaitu dari 12 siang – 18 sore. Dan hari Minggu lebih lama lagi dari jam 12 siang hingga jam 21 malam.

Ada empat perangkat yang dijadikan untuk mengakses berita online yaitu smartphone (97%), PC kantor (16%), laptop pribadi (13%) dan tablet (6%). Dengan waktu tertinggi mengakses pada smartphone dari jam 18 – 21, PC kantor dari jam 9 – 12, laptop pribadi dari jam 18 – 21, dan tablet dari jam 18 – 21.

Cara menemukan website berita paling besar melalui mesin pencari (search engine) sebanyak 31%, channel yang ada pada website tersebut sebanyak 28%, social media 24%, menuju langsung ke homepage website 10%,  dan yang lain-lain seperti blog, google others, MDK.TO, Goo.gl dan googleweblight.com sebanyak 7%.

Jadi, smartphone adalah perangkat utama yang dijadikan akses pengguna untuk mencari berita online. Selanjutnya PC kantor dan laptop pribadi. Akses melalui PC kebanyakan saat jam kerja, sedangkan melalui laptop dan tablet saat waktu istirahat di malam.

Bagi anda yang ingin melihat laporan lengkap tentang studi tersebut bisa melihat di slideshare yang diupload oleh Rhein Mahatma (Co-Founder StartupBisnis.com)