Didi Chuxing Jadi Penguasa Transportasi Online di Tiongkok Usai Merger Uber

356
Didi Chuxing, Uber
Didi Chuxing merger dengan Uber Tiongkok (sumber: CNN Money)

Teknologi.info – Senin, 1 Agustus 2016 melalui rilis resmi di websitenya, Uber menyatakan unit bisnisnya yang ada di Tiongkok melakukan merger dengan Didi Chuxing. Selama ini transportasi online di Tiongkok terjadi pertarungan hebat antara Uber dan Didi Chuxing.

Memang Uber berhasil menguasai pasar sewa kendaraan online di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia. Berbeda di Tiongkok, Uber saat masuk tahun 2014 harus head-to-head dengan Didi Chuxing yang merupakan perusahaan aplikasi sewa kendaraan online buatan Tiongkok.

Pernyataan resmi merger dengan Didi Chuxing disampaikan langsung oleh CEO sekaligus Co-Founder Uber, Travis Kalanick. Uber di Tiongkok disebut telah melakukan 150 juta perjalanan per bulan, dimana itu sangat sulit dilakukan untuk sebuah perusahaan teknologi luar yang berekspansi disana.

Travis menjelaskan setelah selama ini belum menghasilkan keuntungan di antara kedua perusahaan tersebut yang menghabiskan investasi miliaran dolar. Maka dilakukanlah merger untuk membangun bisnis berkelanjutan dalam jangka panjang yang dapat melayani penumpang dan driver di Tiongkok.

Sikap optimis terlihat dari rilis Travis tersebut, karena dia tidak ragu menyatakan bahwa Uber Tiongkok dan Didi Chuxing akan lebih kuat jika bersama. Dengan merger tersebut menjadikan valuasi Didi Chuxing sebesar 35 miliar dolar, mencoba mengejar valuasi Uber yang mencapai 66 miliar dolar.

Didi Chuxing juga akan menaruh investasi dengan nilai sebesar 1 miliar dollar di Uber. Sedangkan Uber dan pemegang saham Uber Tiongkok termasuk Baidu mendapatkan 20 persen saham di Didi Chuxing. Operasional bisnis Uber di Tiongkok akan dipegang oleh Didi mulai dari merek sampai data. Tetapi, nama Uber tetap diperbolehkan.

Dari perjanjian tersebut, membuat CEO Didi Chuxing Cheng Wei menjadi dewan komisaris Uber. Dan sebaliknya, CEO Uber Travis Kalanick masuk menjadi dewan komisaris Didi Chuxing. Merger ini menjadikan Didi Chuxing menjadi pemain terbesar untuk transportasi online di Negeri Tirai Bambu.

Selama ini Didi Chuxing didukung investor seperti Apple, Tencent, dan Alibaba. Didi juga berinvestasi di layanan pemesanan taksi yang lain seperti Lyft di Amerika Serikat, Ola India, dan Grab di Asia Tenggara. Investasi terhadap sesama layanan transportasi online itu untuk menyaingi Uber.

Advertisements